Header Ads

Sudahkah Kalian Mengenal Kepribadian Anak?

Bertepatan pada hari ini 23 Juli 2019, masyarakat Indonesia kembali merayakan Hari Anak Nasional (HAN). Namun, tahukah kamu bagaimana sejarah terjadinya HAN di Indonesia?
Sesuai dengan resolusi majelis umum PBB 836 (IX) pada tanggal 14  Desember 1954,  semua pemerintah negara direkomendasikan untuk meresmikan Hari Anak pada tanggal yang sesuai dengan pertimbangan masing-masing negara. Pada tahun 1948, Presiden RI ke-2 Soeharto, memutuskan untuk menetapkan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional. Hal ini didukung dalam Keputusan Presiden RI No. 44 tahun 1984.
Tujuan utama ditetapkan Hari Anak Nasional adalah untuk mengajak seluruh warga negara Indonesia memperingati dan menghormati hak-hak anak Indonesia, seperti: hak hidup, hak tumbuh kembang, hak mendapat perlindungan, dan hak untuk berpartisipasi. 
 Tumbuh kembang merupakan masa krusial dalam kehidupan seseorang. Ilmuan Jean Piaget pada tahun 1964 mengembangkan teori berupa perkembangan kognitif pada bayi hingga remaja. Tahap-tahap perkembangan Piaget meliputi: sensorimotor, preoperational,concrete operational, dan formal operational.
Tahap sensorimotor dimulai saat anak lahir di dunia hingga usia 18-24 bulan. Pada tahap ini bayi mulai menyadari lingkungan sekitar dan bereksplorasi melalui alat indera. Antara usia 7 dan 9 bulan bayi mulai mengingat benda-benda di sekitarnya, ini sebagai tonggak penting bahwa telah terjadi perkembangan memori. Akhir tahap sensorimotor adalah saat bayi mulai berjalan, berdiri, dan merangkak di usia 18 sampai 24 bulan yang menjadi tonggak penting lainnya yaitu mereka sedang mengembangkan beberapa kemampuan simbolis (perkembangan bahasa awal). 
Tahappreoperational merupakan lanjutan dari sensiromotor dimana balita (hingga usia 7 tahun) dapat berpikir secara simbolis. Kemampuan bahasa mereka mulai membaik. Di tahap ini ingatan dan imajinasi berkembang sangat pesat, sehingga memungkinan bagi anak untuk membedakan antara masa lalu, masa kini, masa depan serta memiliki cita-cita. Walaupun demikian, pola pikir mereka masih sempit dan tidak logis.
Pada tahap concrete operational, anak-anak usia sekolah dasar dan pra remaja (usia 7-11 tahun) mulai dapat berpikir logis dan nyata. Anak-anak mulai tidak egosentris dan sadar akan lingkungan sekitar. Mereka mulai sadar jika pikiran dan perasaan sesorang berbeda-beda. Namun, selama tahap ini, sebagian besar anak-anak masih tidak dapat menemukan pemecahan masalah tanpa adanya objek secara nyata. 
Tahap terakhir yaitu operationaldimana remaja sudah mampu berpikir secara logis dan konsepsual. Pada tahap ini mereka sudah dapat memikirkan banyak variable secara sistematis, merumuskan suatu masalah, dan memperimbangkan banyak kemungkinan. Tak luput, mereka juga dapat menjalin keadilan. 
Melalui perayaan Hari Anak Nasional, kita diharapkan untuk dapat mengingat, merenungkan, memikirkan, dan mengajak seluruh masyarakat mendidik serta membimbing anak-anak di Indonesia agar mendapatkan perlakuan terbaik dalam fase tumbuh kembang mereka. 

Selamat Hari Anak Nasional!

AR

Sumber:
Rose SA, Feldman JF, Jankowski JJ. A cognitive approach to the development of early language. Child Dev. 2009;80(1):134–150. doi:10.1111/j.1467-8624.2008.01250.x

No comments